LINIKATA.COM, PATI – Petani di Kabupaten Pati resah dengan isu masuknya bawang merah impor ilegal di masa-masa mendekati panen raya. Mengingat, bawang merah yang diduga berasal dari Thailand itu harganya jauh lebih murah sehingga merusak pasar.
Kondisi ini diperparah dengan turunnya harga bawang merah di tingkat petani yang saat ini hanya Rp20 ribu dari Rp30 ribu per kilogram. Penurunan ini sudah terjadi dalam dua pekan terakhir.
Ketua Asosiasi Bawang Merah Kabupaten Pati, Kasnawi, mengatakan, pihaknya bersama Asosiasi Bawang Merah dari Nganjuk dan Probolinggo sempat bekerja sama untuk mengantisipasi masuknya bawang impor ilegal yang diduga tidak sesuai dengan regulasi. Pihaknya khawatir bawang impor tersebut masuk ke pasar tradisional dengan harga jauh lebih murah dibandingkan bawang lokal.
Baca juga: Harga Telur dan Daging Ayam di Kudus Mahal, Pedagang Mengeluh Untung Tipis
“Sekarang ini, kan mau panen. Tapi ada isu-isu impor yang sangat meresahkan petani. Kami khawatir bawang impor ilegal beredar di pasaran dan berdampak langsung pada harga bawang lokal,” ujar petani asal Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati itu, Jumat (19/12/2025).
Kasnawi juga mengungkapkan adanya isu bawang ilegal yang disebut-sebut berasal dari Thailand. Meski belum dapat dipastikan kebenarannya, kabar tersebut sudah terlanjur membuat petani khawatir.
“Mudah-mudahan isu itu salah. Tapi kalau benar ada bawang ilegal masuk, itu sangat merugikan petani. Harganya bisa jauh di bawah biaya produksi petani kita,” tambahnya.
Baca juga: Dekati Panen Raya, Harga Bawang Merah di Pati Malah Anjlok
Padahal, lanjut dia, di luar isu bawang merah ilegal, petani kini menghadapi situasi harganya yang masih carut-marut dan tidak menentu.
“Ketidakstabilan harga tersebut membuat petani dan pelaku usaha bawang merah kebingungan, karena sulit memprediksi keuntungan di tengah tingginya biaya produksi,” tegasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














