LINIKATA.COM, PATI – Kasus asusila yang menimpa seorang santriwati di Kabupaten Pati memicu perhatian serius dari tingkat nasional. Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian korban dalam mengungkap praktik bejat tersangka Asyhari, meski harus menghadapi intimidasi yang berat.
Dalam kunjungannya ke kediaman korban di Pati pada Sabtu (9/5), Eva menegaskan bahwa keteguhan santriwati tersebut harus menjadi simbol perlawanan bagi kaum perempuan di seluruh Indonesia.
Menghapus Budaya Diam
Eva Monalisa, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Advokasi, Hukum, & Kebijakan Publik DPP Perempuan Bangsa, menekankan pentingnya keberanian untuk bersuara guna memutus rantai kekerasan seksual.
Baca juga: Fakta Baru! Tersangka Asyhari Kini Akui Cabuli Dua Santriwati
“Saya harap semua perempuan-perempuan yang ada di luar sana bisa menjadikan korban sebagai role model, agar mereka juga bisa speak up. Jadi menghilangkan gaya diam,” tegas Eva.
Kehadiran politisi PKB ini bertujuan untuk menguatkan mental korban. Diketahui, sejak laporan pertama kali dilayangkan pada tahun 2024, korban sempat mendapatkan berbagai ancaman dari pihak tersangka.
Krisis Kepercayaan di Lembaga Pendidikan
Eva menyayangkan tragedi ini terjadi di lingkungan pondok pesantren, yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak untuk menimba ilmu. Ia mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap citra institusi pendidikan agama di mata masyarakat.
“Saya mengucapkan turut prihatin atas musibah yang terjadi di pondok pesantren yang harusnya menjadi lembaga pendidikan yang aman bagi anak,” katanya.
Menurutnya, tindakan oknum seperti Asyhari telah mencederai kepercayaan orang tua di Pati dan sekitarnya.
“Kasus ini menghilangkan istilahnya kepercayaan dari orang tua. Ini adalah amanah yang hilang karena sebagian orang tua mempercayakan anaknya di lembaga tersebut, tapi justru mendapat tempat yang tidak aman bagi mereka,” lanjut Eva.
Desakan Hukuman Maksimal dan Kehadiran Negara
Sebagai bagian dari Kaukus Perempuan Parlemen, Eva mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas tanpa pandang bulu. Ia berharap kasus di Pati ini menjadi peringatan keras agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Baca juga: Komnas HAM Sesalkan Polisi Lamban Tangani Kasus Pencabulan Santriwati di Pati
“Saya berharap kejadian ini cukup sampai di sini,” harap Eva dalam kunjungan yang sekaligus untuk menyerahkan tali kasih dari DPP Perempuan Bangsa itu.
Lebih lanjut, ia meminta pemerintah menjamin hak-hak korban, mulai dari aspek hukum hingga rehabilitasi psikologis.
“Harapan saya ya tegas, ya, bahwa ini tidak boleh ada toleransi sedikitpun terhadap kasus ini. Jadi negara harus hadir, mulai dari penegakan hukum yang maksimal, hingga memastikan perlindungan dan pemulihan bagi korban,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














