LINIKATA COM, PATI – Ancaman kemarau panjang yang diprediksi melanda tahun ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan petani, khususnya di wilayah Pati. Sebagai langkah mitigasi meminimalkan risiko kerugian, para petani kini beralih menggunakan varietas benih padi berumur pendek atau genjah guna mempercepat masa panen.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diproyeksikan datang lebih awal dengan permulaan transisi yang diperkirakan terjadi mulai April ini.
Petani Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kamelan, mengungkapkan, kecemasan menyelimuti para petani yang saat ini sedang memasuki musim tanam.
Baca juga: Petani Pati Resah Wacana Pembatasan BBM Imbas Perang Iran Vs As-Israel
“Takutnya nanti sudah ditanam tiba-tiba benar terjadi kemarau panjang dan bisa mengakibatkan gagal panen,” ungkapnya, Senin (6/4/2026).
Untuk menyiasati keterbatasan air di masa mendatang, pilihan jatuh pada varietas unggul seperti Cakra Buana atau M70 yang dikenal memiliki masa pertumbuhan singkat.
“Keunggulan varietas ini terletak pada efisiensi waktu karena varietas dengan umur pendek itu rata-rata bisa panen 25 hari lebih cepat dibandingkan benih yang biasanya,” beber dia.
Secara teknis, lanjut dia, padi varietas biasa umumnya membutuhkan waktu sekitar 90 hingga 100 hari setelah tanam (HST) untuk siap dipanen. Sebaliknya, benih umur pendek memberikan keunggulan kompetitif dengan masa panen yang jauh lebih singkat, yakni hanya berkisar antara 70 hingga 75 HST.
“Kami berharap kalau prediksi itu benar terjadi kemarau panjang hingga menyebabkan air habis, petani sudah bisa panen,” katanya.
Baca juga: Tembus 9,4 Ton per Hektare, Varietas Inpari 43 Jadi Primadona Baru Petani Pati
Meskipun terdapat sedikit perbedaan pada volume hasil panen jika dibandingkan dengan varietas konvensional, para petani menilai langkah ini adalah opsi paling aman. Fokus utama mereka saat ini adalah kepastian hasil daripada memaksakan varietas biasa yang berisiko tinggi.
“Meski varietas umur pendek secara kuantitas hasil tetap memiliki perbedaan dengan yang biasa ditanam tapi tidak terlalu signifikan. Petani lebih mengejar supaya bisa panen daripada resiko gagal panen,” pungkasnya. (LK2)
Editor: Ahmad Muhlisin















