LINIKATA.COM, PATI – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menunda peninggian dua jembatan di Jalan Pantura Pati-Rembang yang memicu banjir di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Sebagai ganti, anggarannya akan digunakan untuk normalisasi sungai Widodaren.
Awalnya, proyek infrastruktur di Kabupaten Pati ini dijadwalkan mulai dikerjakan tahun ini guna mengatasi masalah penyumbatan puing dan sampah yang kerap memicu luapan air sungai. Namun, berdasarkan koordinasi terbaru, realisasi peninggian struktur jembatan kemungkinan besar baru bisa terlaksana pada 2027 mendatang.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati, Widyotomo Kusdiyanto, menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah pusat saat ini adalah pemeliharaan aliran air di sekitar kawasan Widodaren.
Baca juga: Gunakan Lapangan, Warga Sukobubuk Pati Tolak Pembangunan KDMP
”Terakhir kami koordinasi dengan Kementerian PU kemungkinan untuk tahun ini belum ada mungkin di tahun depan 2027. Tahun 2026 ini hanya sekedar normalisasi saja seperti biasanya normalisasi sungai yang ada di sekitar Widodaren yang ada di Desa Ketitangwetan,” ujar Widyotomo, Jumat (27/3/2026).
Pemerintah daerah setempat menilai kondisi jembatan yang terlalu rendah menjadi faktor utama penghambat arus sungai, terutama saat intensitas hujan tinggi. Sampah yang tersangkut di kolong jembatan menyebabkan air meluap hingga merendam akses jalan nasional yang menghubungkan Pati dan Rembang tersebut.
Mengingat, urgensi penanganan dampak banjir tahunan, DPUTR Pati terus mendorong agar Kementerian PU segera memberikan kepastian jadwal pengerjaan fisik jembatan agar masalah ini tidak terus berulang.
”Harapannya Kementerian PU segera menangani permasalahan tersebut sehingga tidak menjadi banjir berulang setiap tahun,” terangnya.
Baca juga: Tak Kantongi RKAB, 17 Perusahaan Tambang di Rembang Dilarang Beroperasi
Sebagai langkah antisipasi darurat sebelum proyek besar dimulai, pihak DPUTR telah melakukan upaya pembersihan secara mandiri. Langkah ini dilakukan untuk memastikan sedimen tidak semakin mendalam dan menghambat aliran air di bawah jembatan, terutama saat momen krusial seperti musim mudik lalu.
”Karena memang jembatannya terlalu rendah, kemarin sebelum lebaran itu sudah dilaksanakan normalisasi secara manual di bawah jembatan itu pengerukan sedimennya,” katanya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















