LINIKATA.COM, PATI – Momentum Ramadan dan Idulfitri 2026 membawa berkah melimpah bagi para pelaku industri kreatif, termasuk desainer fashion asal Kabupaten Pati, Meyda Dewi Trisbiani. Pengusaha muda ini mengaku kewalahan melayani lonjakan permintaan rancangan busana yang datang dari berbagai pihak, mulai dari pelanggan perorangan hingga vendor besar.
Kesibukan pemilik label Meyda Trisbiani Couture ini meningkat drastis sejak Februari 2026. Ia mengungkapkan lonjakan ini bahkan tercatat melampaui angka seratusan desain per bulannya.
“Februari yang bertepatan Ramadan ini pesanan memang meningkat karena tiap orang berburu pakaian untuk Lebaran. Lebih dari seratusan pcs per bulan (Februari),” ungkap Meyda, Kamis (19/3/2026).
Baca juga: UMKM Kudus Kebanjiran Order Minuman Rempah hingga 15.000 Cup Jelang Lebaran
Menurut Meyda, fenomena ini tidak lepas dari rentetan momentum krusial yang terjadi secara berurutan. Setelah kebutuhan baju Muslim untuk Ramadan dan busana Idulfitri terpenuhi, tren diperkirakan akan bergeser ke arah gaun pesta seiring memasuki bulan Syawal yang identik dengan musim pernikahan.
“Sebelum puasa sudah prepare, bulan puasa ini banyak event Ramadan, habis Lebaran langsung masuk Syawal kan banyak orang menikah. Pesanan baju pesta juga banyak jadinya bareng-bareng,” imbuhnya.
Dalam melayani pelanggan setianya, desainer yang bermukim di Perumahan Rendole, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo ini sangat memperhatikan detail dan personalisasi. Ia tidak hanya sekadar membuat baju, tetapi juga melayani konsultasi mengenai kesesuaian bahan dengan model yang diinginkan oleh konsumen yang datang membawa referensi sendiri.
“Banyak yang custom ke aku. Ada juga biasanya mereka bawa referensi mereka sendiri, misal dia punya kainnya model apa, bingung dimodelkan apa bisa minta custom ke aku, tergantung jenis kainnya, kelenturan kainnya, kain seperti ini dibikin seperti apa,” tuturnya.
Keahlian Meyda dalam mengukur proporsi tubuh dan pemilihan motif menjadi nilai tambah yang dicari pelanggan. Ia memahami bahwa setiap individu memiliki karakteristik fisik yang berbeda, sehingga desain yang dibuat pun harus bersifat eksklusif dan mampu menonjolkan kelebihan pemakainya.
“Memerhatikan bentuk badannya yang biasanya ada keunikan tersendiri, ada beberapa model baju gak cocok untuk yang gemuk atau yang kurus. Jadi pertama, saya perhatikan bentuk badannya. Kedua, kesukaan warna dan modelnya kadang ada yang suka simpel atau yang suka ramai, seleranya beda-beda saya menyesuaikan customer,” papar Meyda.
Baca juga: Sarung Batik Rahatu Pati Jadi Primadona Hampers Lebaran, Sampai Kewalahan
Keberhasilan Meyda dalam membangun relasi dengan vendor seperti Event Organizer, MUA, hingga sekolah-sekolah menjadi pilar kekuatan bisnisnya. Kepercayaan menjadi modal utama yang ia pegang teguh untuk memastikan usahanya terus berkembang di tengah persaingan industri fashion yang kian kompetitif.
“Alhamdulillah udah punya relasi jadinya lanjutin setiap ada event, seperti setiap ada wisudaan sewaan kebaya akan meningkat,” pungkas Meyda. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















