LINIKATA.COM, PATI – Ribuan hektare sawah di Kabupaten Pati terendam banjir hingga menyebabkan gagal panen massal atau puso. Kondisi ini membuat para petani hanya bisa pasrah menanggung kerugian yang ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.
Salah satu wilayah terdampak paling parah adalah Desa Widorokandang, Kecamatan Pati. Petani setempat, Sunaryo, menuturkan bahwa tanaman padinya hancur total setelah terendam banjir selama lebih dari dua pekan. Meski kondisi padi sudah rusak, ia tetap terpaksa memanennya dengan menerobos genangan air menggunakan terpal agar lahan bisa segera dibersihkan.
Hasil panen yang tersisa tersebut kini tidak lagi layak untuk dikonsumsi manusia atau dijual ke pasar. Sunaryo mengaku hanya bisa memanfaatkan sisa gabah tersebut untuk pakan ternak bebek. Langkah ini diambil agar sisa tanaman tidak membusuk di sawah dan menghambat proses pengolahan lahan saat banjir benar-benar surut nantinya.
Baca juga: Usaha Terdampak Banjir Pati, Kisah Masudah Bertahan Tanpa Uang Sepeser Pun
“Ini terpaksa dipanen, supaya tidak membusuk di sawah. Sudah dua minggu lebih terendam banjir, padinya sudah tidak bisa dipanen lagi. Ini nanti untuk pakan bebek,” ucap Sunaryo, Kamis (29/1/2026).
Luas Gagal Panen dan Wilayah Terdampak di Kabupaten Pati
Sunaryo menambahkan, di desanya saja, setidaknya ada sekitar 300 hektare sawah yang mengalami gagal panen total. Hal ini menjadi pukulan telak bagi ekonomi warga desa yang bergantung pada sektor pertanian.
“Kerugiannya tentu sangat besar karena tidak bisa lagi dipanen,” ujar dia.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, bencana banjir ini masih melanda 58 desa di tujuh kecamatan. Beberapa wilayah yang masih tergenang meliputi Kecamatan Pati Kota, Juwana, Kayen, Jakenan, Sukolilo, Dukuhseti, hingga Kecamatan Gabus. Kondisi air dilaporkan mulai surut di beberapa titik, namun dampak kerusakannya sudah terlanjur meluas.
Total Kerugian Pertanian Akibat Banjir Pati
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, mengungkapkan bahwa dampak banjir terhadap sektor pertanian kali ini sangat masif. Tercatat ada 14.438 hektare lahan sawah yang terdampak, dengan total kerugian ekonomi mencapai angka Rp301 miliar. Angka ini merupakan estimasi dari biaya produksi dan potensi hasil panen yang hilang.
Baca juga: Pertamina Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Banjir Juwana Pati
Sebagai langkah penanganan, pemerintah daerah saat ini sedang mengupayakan bantuan bagi para petani yang terdampak musibah tersebut. Ratri menjelaskan bahwa pihaknya tengah memproses klaim asuransi tani bagi sebagian lahan serta mengajukan permohonan bantuan benih padi kepada pemerintah pusat maupun provinsi.
“Terkait potensi kerugian itu, saat ini sedang dilakukan proses klaim asuransi tani. Sekitar seribu hektare. Juga tengah diusulkan pengajuan bantuan benih padi,” ujar Ratri. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














