LINIKATA.COM, PATI – Warga Tambaharjo, Kecamatan/Kabupaten Pati menolak pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang akan menempati lapangan sepak bola setempat. Video penolakan warga bahkan sempat viral di media sosial sejak Senin (6/1/2026).
Salah satu warga yang menolak berdirinya kopdes, Sutarno, mengatakan, alasannya menolak proyek itu karena warung nasi miliknya yang berada di samping lapangan terancam ikut tergusur.
”Orang terlantar dipelihara negara, orang sudah berdiri (mandiri) jangan ditelantarkan. Bangun ini (Kopdes) harusnya pakai logika. Harusnya ada pro dan kontra antara Pemdes (Pemerintah Desa) dan BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Kenapa harus setuju semuanya,” ujar dia saat ditemui di lokasi, Selasa (6/1/2026).
Baca juga: 244 Kopdes di Pati Proses Bangun Gerai, Sisanya Kesulitan Cari Lahan
Sutarno mengaku tidak menolak keberadaan Kopdes Merah Putih. Namun, karena bangunannya akan menempati fasiltas umum, maka warga kemudian ramai-ramai menolak. Apalagi, sebenarnya banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu.
”Lebih baik KDMP itu dipindah di lokasi lain. Jadi tidak mengganggu fasilitas umum. Di sebelah Utara juga ada tanah desa, di sebelah Barat lapangan ada, terus di belakang ruko Jalan Payang juga ada. Banyak sekali lokasinya. Saya ndak tahu kenapa dipaksakan di sini,” tegas dia.
Menurutnya, warga tak dilibatkan dalam Musyawarah Desa (Musdes) untuk menentukan lokasi pembangunan Kopdes Merah Putih. Dia mengaku hanya mendapatkan surat pemberitahuan dari Pemdes untuk mengosongkan gerainya.
”Tidak dilibatkan dalam Musdes. Setelah Musdes baru diberitahukan. Dua kali pemberitahuan harus pergi dari ruko. Sekarang masih bertahan. Soalnya saya punya bukti keterangan jualan di sini pada tahun 2011. Sudah 21 tahun jualan sejak 2004,” tandas dia.
Hal senada juga diucapkan, Abdul Jabar. Pengurus sepak bola Desa Tambaharjo ini mengaku tak mau pengembangan sepak bola menjadi korban lantaran terdampak pembangunan Kopdes Merah Putih.
”Kalau sepak bola sudah dibunuh karakternya, nanti kita mau olahraga di mana gitu enaknya,” tegas dia.
Menanggapi penolakan warga, Perangkat Desa Tambaharjo, Sulono, mengungkapkan, pemilihan lokasi tersebut sudah sesuai kesepakatan antara pihaknya dengan BPD dalam Musyawarah Desa (Musdes). Menurutnya, lokasi tersebut sangat strategis karena dekat dengan jalan raya.
Ia juga membantah isu pembangunan Kopdes Merah Putih nanti merusak lapangan sepak bola. Mengingat, dari luas gerai Kopdes Merah Putih selebar 20 × 30 meter, lahan lapangan sepak bola yang terkena sekitar 2 × 30 meter. Nantinya, lapangan bakal digeser ke Utara agar sesuai standar.
Baca juga: Gusur Madin, Warga Cingkrong Grobogan Tolak Pembangunan Kopdes
”Lapangan itu bukannya dirusak. Maaf itu hanya digeser. Toh lokasinya digeser ke kiri kanan itu masih sangat luas,” kata Sulono.
Pemdes Tambaharjo juga berjanji bakal menata lapangan sepak bola agar lebih indah. Pihaknya berkomitmen ikut mengembangkan sepak bola.
”Jadi nanti ditata oleh desa dengan lokasi yang strategis. Nanti pinggirannya ditata biar nanti ke depannya lebih bagus lagi lapangannya,” tutupnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














