LINIKATA.COM, PATI – Oby Achmad Widiyanto (38) tampak sedang meracik minuman di dapur yang bersebelahan dengan pintu masuk Kedai Jahe Rempah Tempo Doeloe. Meski tangan kanannya punya keterbatasan, ia tampak lihai memasukkan berbagai bahan untuk membuat menu minuman andalan tempat tersebut.
Tak hanya satu, ia terlihat mahir juga melayani berbagai pesanan pembeli yang siang itu begitu ramai. Bersama sejumlah karyawannya, mereka dengan telaten menyiapkan berbagai menu dan kemudian mengantarkannya ke kursi-kursi yang telah ditempati.
Sehari-hari, Oby, panggilan akrabnya memang selalu turun langsung melayani para pelanggan. Dia ingin memastikan semua orang yang datang di kedainya terlayani dengan baik. Pengalaman sebagai seorang disabilitas membawanya untuk terus memuliakan para tamunya.
Baca juga: Nikmatnya Blekok Goreng, Kuliner Pati yang Tak Bisa Dijumpai Tiap Hari
Sebelum dikenal sebagai pengusaha kuliner, Oby sempat meniti karier mapan di sektor perbankan. Pada 2010 saat berusia 23 tahun, kecelakaan kerja merenggut fungsi normal salah satu tangannya dan membuatnya menjadi penyandang disabilitas permanen.
Karier sebagai pegawai bank pun harus ia relakan, karena proses pengobatan dan terapi memakan waktu panjang. Dengan disabilitas fisik itu, Oby mengaku sempat terpuruk.
Kondisi tangannya yang tak sempurna sempat membuatnya minder. Namun, mau tidak mau dia harus beradaptasi dengan realitas baru dan mencoba mencari pekerjaan yang bisa dia lakukan dengan keterbatasan.
“Saya pernah berjualan ayam, membuka les privat, hingga mengerjakan jahit kain majun atau kain perca yang dikirim ke pabrik-pabrik menggunakan kendaraan pick-up setiap minggu,” ungkapnya, Sabtu 6/11/2025).
Pengalaman bertahun-tahun bekerja serabutan itu menjadi pengalaman hidup bagi Oby. Ia belajar membaca peluang, mengenali kebutuhan pasar, hingga memahami perilaku konsumen dari berbagai lapisan.
Tahun 2019, ia menambah bekal baru dengan terjun ke dunia jurnalis, mengikuti pelatihan dan menulis isu seputar disabilitas. Selain itu, Oby juga aktif dalam komunitas difabel di wilayah Pati untuk memperjuangkan kesetaraan, bukan sekadar charity, melainkan pengakuan atas kemampuan dan kapasitas.
Langkah-langkah kecil itu perlahan menuntun Oby menemukan panggilan terbesarnya: menjadi pengusaha.
Pada 23 Desember 2022, Oby bersama rekannya mendirikan usaha yang bernama Jahe Rempah Tempo Doeloe. Lokasinya berada di Jalan Kolonel Sugiono nomor 10, Desa Winong, Kecamatan Pati.
Baca juga: Siti Berdayakan Puluhan Janda di Jepara Produksi 100 Kg Keripik Singkong Tiap Hari
Kedai Jahe Rempah ini hadir di tengah dominasi kopi dan minuman kekinian, membawa diferensiasi minuman rempah tradisional yang dikemas modern, ramah lidah generasi muda, tapi tetap berfokus pada kesehatan.
Ia terinspirasi oleh momen pasca pandemi COVID-19, ketika jahe dan rempah menjadi primadona. Namun, menurutnya, saat itu minuman rempah belum tersaji dengan citra menarik dan cenderung masih melekat pada stigma pahit seperti jamu.
Dengan riset pasar yang ia amati sendiri selama bertahun-tahun, Oby menciptakan minuman jahe yang manisnya alami, menggunakan gula batu dan gula aren tanpa pemanis sintetis, agar bisa dinikmati anak muda maupun mereka yang enggan pada rasa jamu tradisional.
“Saya butuh penyesuaian, tapi bukan halangan. Kalau saya bisa, teman-teman disabilitas lain juga pasti bisa,” katanya.
Kini, Jahe Rempah Tempo Doeloe bukan sekadar kedai minuman, tetapi juga simbol bahwa disabilitas tidak menghalangi seseorang untuk berkarier lebih tinggi, bahkan menjadi penggerak tren kesehatan tradisional.
Ia membuktikan bahwa yang menentukan sukses bukan kesempurnaan fisik, melainkan keberanian memulai, kemampuan membaca peluang, dan keteguhan untuk terus melangkah. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














