LINIKATA.COM, KUDUS – Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, terus mendorong penguatan diplomasi kebahasaan Indonesia di kancah global. Hal ini ditegaskannya saat menggelar acara Diseminasi Program Diplomasi Kebahasaan dan Kesastraan bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI di Hotel Griptha, Kudus, Rabu (26/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Lestari menyoroti peran strategis Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai alat diplomasi lunak (soft diplomacy) yang efektif untuk memperluas pengaruh Indonesia, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.
Wanita yang akrab disapa Rerie ini menilai bahwa minat warga negara asing, termasuk mahasiswa internasional yang belajar di Indonesia, terus meningkat. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menempatkan Bahasa Indonesia pada posisi yang lebih terhormat, yakni sebagai bahasa akademik.
Baca juga: Lestari Moerdijat Tekankan Penanganan Kekerasan di Kampus Harus Fundamental
“Ini adalah titik yang sangat strategis untuk memperluas jejaring dan meneguhkan bangsa. Kita harus mampu mengembangkan program BIPA untuk membangun kekuatan yang berdaya jangkau luas, baik di Asia Tenggara maupun Indo-Pasifik,” ujar Rerie.
Ia menambahkan, secara historis, Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu sejatinya telah lama menjadi lingua franca (bahasa perantara) dalam aktivitas perdagangan dan perpindahan penduduk di kawasan ini.
“Bahasa Melayu sebagai akar dari Bahasa Indonesia sudah digunakan di Asia Tenggara sejak lama. Dalam catatan sejarah, banyak sekali interaksi antara pendatang yang kemudian menyebar ke berbagai tempat menggunakan bahasa ini,” jelasnya.
Di sisi lain, Rerie juga mengingatkan adanya tantangan berat di dalam negeri. Derasnya arus globalisasi membawa ancaman nyata terhadap kelestarian bahasa daerah.
“Di tengah globalisasi, ancaman kepunahan bahasa terjadi hampir setiap hari. Keberhasilan perlindungan kebahasaan ini membutuhkan kolaborasi lintas institusi. Kami sangat respek dengan upaya Kemendikdasmen dalam hal ini,” tuturnya.
Oleh karena itu, ia meminta generasi muda untuk mengambil peran ganda: sebagai agen penyebar bahasa ke dunia luar, sekaligus sebagai penutur aktif yang menjaga kaidah bahasa di dalam negeri.
“Generasi muda harus bisa menulis dan menggunakan Bahasa Indonesia secara tepat. Ini bukan sekadar menyebarkan, tetapi memastikan kemampuan berbahasa yang baik dan benar tertanam kuat,” tegas Rerie.
Senada dengan Rerie, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa, Iwa Lukmana, menekankan pentingnya dukungan publik terhadap program-program kebahasaan. Ia menyebut kegiatan diseminasi ini adalah bentuk transparansi kinerja pemerintah kepada masyarakat.
“Kami ingin publik mengetahui apa saja yang kami kerjakan. Publik memang harus tahu, dan kami juga membutuhkan dukungan mereka,” tutur Iwa.
Iwa mengungkapkan optimismenya melihat antusiasme generasi muda. Melalui berbagai program literasi yang digelar unit teknis Badan Bahasa di berbagai provinsi, banyak mahasiswa yang kini telah menghasilkan karya tulis.
Baca juga: Lestari Moerdijat Rangkul Penyintas Kanker Payudara di Kudus
“Mereka adalah penulis masa depan. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang menjadi penerus penulis-penulis sebelumnya,” ujarnya.
Dengan sinergi antara penguatan BIPA di luar negeri dan pelestarian bahasa di dalam negeri, Iwa berharap diplomasi kebahasaan Indonesia semakin kuat, sekaligus memastikan bahasa daerah tetap hidup di tengah gempuran zaman. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin














