LINIKATA.COM, PATI – Di sebuah dapur rumah di Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, jemari Siti Nafiah (58) tampak begitu lincah memilah kedelai di antara bulir-bulir air. Dari rutinitas sederhana inilah, perempuan yang juga mengabdi sebagai guru TPQ ini merajut mimpi besarnya menuju Tanah Suci.
Setelah 14 tahun berada dalam antrean panjang, tahun 2026 ini menjadi jawaban atas doa-doa yang ia panjatkan di sela rutinitasnya mengolah kedelai.
Menitipkan Asa di Tiap Warung
Perjalanan Nafiah dimulai sekitar dua dekade silam. Bersama suaminya, Winoto (65), ia membangun ekonomi keluarga dari modal Rp500 ribu per pekan untuk produksi tempe. Namun, bagi Siti, setiap bungkus tempe yang ia titipkan dari warung ke warung bukan sekadar dagangan, melainkan titipan harapan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Baca juga: Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Pasutri di Demak Ini Tetap Teguh Persiapkan Haji
“Usaha tempe ini sudah 20 tahun kurang lebih. Selama ini jadi penghasilan utama keluarga,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (24/4/2026).
Sejak mendaftar haji pada 2012 lalu, Siti menjalani masa tunggunya dengan penuh ketelatenan. Di tengah omzet harian yang hanya berkisar Rp150 ribu dari pengolahan 8 kilogram kedelai, ia tetap disiplin menyisihkan rupiah demi rupiah.
Disiplin di Tengah Keterbatasan
Bagi Siti, menabung adalah seni mengelola prioritas. Di hari-hari yang longgar, ia sanggup menyisihkan Rp10 ribu atau mencapai Rp100 ribu dalam sepekan. Meski tabungannya sering terhenti sejenak karena urusan dapur atau kebutuhan sosial, semangatnya untuk melunasi biaya haji tak pernah surut.
“Kalau ada kebutuhan, kan, tidak bisa (nabung). Kalau tidak ada kebutuhan, sehari kadang Rp10 ribu,” jelasnya jujur.
Kedisiplinan ini pulalah yang secara ajaib mampu mengantarkan ketiga anaknya meraih gelar sarjana. Anak bungsunya kini tengah kuliah di Kudus, sementara anak keduanya sudah mengabdi di sebuah rumah sakit setelah lulus kuliah di Semarang.
Baca juga: Sekda Jateng Ingatkan Petugas Haji Fokus Layani Jemaah ketimbang Ibadah Pribadi
Muara Penantian 14 Tahun
Kini, penantian panjang itu akhirnya menemui titik terang. Siti Nafiah dan Winoto dijadwalkan bertolak menuju Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada 7 Mei 2026 mendatang sebagai bagian dari rombongan jemaah haji asal Kabupaten Pati.
“Senang sekali bisa berangkat ibadah haji dari jualan tempe. Berangkat insyaAllah tanggal 7 Mei,” tuturnya dengan mata berbinar penuh syukur. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















