LINIKATA.COM, PATI – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kabupaten Pati berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Berpusat di Pura Pati, momen spiritual tahun 2026 ini membawa pesan mendalam mengenai harmoni sosial dan toleransi antarumat beragama yang kuat di Bumi Mina Tani.
Acara ini tidak hanya menjadi milik umat Hindu semata, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi tokoh lintas agama. Kehadiran berbagai elemen masyarakat ini mempertegas posisi Pati sebagai daerah yang menjunjung tinggi kerukunan.
Wasudewa Katumbakam: Kita Semua Bersaudara
Pimpinan Pura Pati, Nengah Tekel (Jro Mangku), menjelaskan bahwa tema besar yang diangkat tahun ini adalah Wasudewa Katumbakam. Konsep ini menekankan bahwa di mata Tuhan, seluruh umat manusia adalah satu kesatuan keluarga yang tak terpisahkan.
Baca juga: Indahnya Ramadan di Pati: Kelenteng Hok Tik Bio Gelar Buka Bersama Lintas Agama
“Tema ini mengandung arti kita semua bersaudara, satu bumi, satu keluarga. Ini menjadi pengingat penting bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus saling menghormati, menjaga toleransi, dan hidup selaras,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jro Mangku menyebutkan bahwa esensi Nyepi—seperti introspeksi diri (mulat sarira) dan pengendalian diri—sangat relevan untuk memperkokoh ikatan sosial di tengah keberagaman keyakinan masyarakat saat ini.
Apresiasi dari Tokoh Lintas Agama
Kehangatan toleransi dalam perayaan ini turut dirasakan oleh Ketua Klenteng Hok Tik Bio Pati, Eddy Siswanto. Kehadirannya menjadi simbol nyata bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling memberikan dukungan spiritual.
“Saya sangat mengapresiasi tema toleransi yang diusung pada perayaan Nyepi tahun 2026 ini. Toleransi dan saling menghargai adalah kunci penting dalam menjaga persatuan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkap Eddy.
Baca juga: Doa Lintas Agama Warnai Perayaan Imlek di Kelenteng Hok Tik Bio Pati
Ia menambahkan bahwa suasana kondusif di Pura Pati membuktikan masyarakat lokal telah dewasa dalam menyikapi perbedaan, sehingga persatuan tetap terjaga dengan baik.
Melalui perayaan Nyepi Saka 1948 ini, diharapkan semangat ketenangan dan kesucian tidak hanya berhenti pada ritual keagamaan saja. Harapannya, nilai-nilai positif tersebut dapat bertransformasi menjadi inspirasi bagi seluruh warga Pati untuk terus memupuk rasa persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. (LK3)
Editor: Ahmad Muhlisin














