LINIKATA.COM, PATI – Aksi protes unik sekaligus menyindir dilakukan oleh warga Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Geram karena akses jalan kabupaten di sebelah barat RSUD Kayen tak kunjung disentuh perbaikan, warga memutuskan untuk menanam sejumlah pohon pisang di titik-titik lubang yang menganga.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi ini telah dimulai sejak Minggu (29/3/2026). Hingga Senin (30/3/2026), setidaknya ada tiga pohon pisang yang masih berdiri kokoh di tengah jalan sebagai penanda lubang sedalam 15 sentimeter dengan diameter mencapai 1 meter. Kondisi ini berbanding terbalik dengan area tepat di depan RSUD Kayen yang sudah mulus berkat konstruksi beton.
Bahayakan Pengendara dan Lumpuhkan Ekonomi Lokal
Kerusakan jalan sepanjang kurang lebih 500 meter ini memaksa pengendara ekstra waspada. Banyak pengguna motor yang terpaksa melipir ke halaman rumah warga atau mencari celah jalan yang masih utuh untuk menghindari kecelakaan.
Baca juga: Ali Badrudin Pastikan Pembangunan di Pati Tetap Jalan Meski Tanpa Sudewo
Sujarwanto, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa kerusakan mulai terjadi sejak akhir Desember 2025, tepatnya pasca pembangunan trotoar di sisi utara jalan. Sayangnya, setelah proyek trotoar rampung, badan jalan justru dibiarkan rusak hingga memakan korban.
“Ada yang jatuh karena awalnya jalannya baik, tahu-tahu rusak akhirnya nge-rem mendadak, belakangnya kena. Makanya kalau ada pohon pisang malah baik biar yang lewat jadi tahu, nggak jalan kencang. Nggak kejeglong (terperosok),” ucap Sujarwanto, Senin (30/3/2026).
Selain faktor keselamatan, rusaknya akses utama menuju Kecamatan Sukolilo dan Kabupaten Kudus ini membuat omzet pedagang sekitar menurun drastis karena warga memilih mencari rute alternatif yang lebih jauh.
“Kalau kami berharapnya bisa segera diperbaiki. Karena kondisinya sudah parah seperti ini,” terangnya.
Pengakuan Korban Jalan Berlubang
Senada dengan Sujarwanto, warga lain bernama Herlan Puji Jasmani mengaku nekat menanam pohon pisang tersebut sebagai bentuk rambu darurat. Ia sendiri pernah menjadi korban keganasan lubang jalan tersebut saat berkendara di malam hari.
“Saya sendiri sempat jatuh sepulang dari Solo. Saat itu lewat pukul 2.00 dini hari, karena lubangnya tertutup air jadi tidak tahu. Pas lewat malah terperosok akhirnya jatuh,” tambah Herlan.
Ia sangat berharap pemerintah segera bertindak, mengingat jalan ini merupakan urat nadi bagi warga Desa Kayen, Sambiroto, Slungkep, hingga Sumbersari. “Ada jalan lain tapi memutar. Jalan ini sebenarnya yang paling enak dilewati kalau tidak rusak,” ujarnya.
Tanggapan DPUTR Pati: Anggaran Rp1,25 Miliar Sudah Siap
Menanggapi aksi protes warga tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati, Hasto Utomo, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa anggaran perbaikan sebenarnya sudah disiapkan melalui APBD 2026 sebesar Rp1,25 miliar.
Baca juga: Plt Bupati Pati Minta Maaf Tak Bisa Perbaiki jalan Rusak Sebelum Lebaran
Namun, Hasto mengungkapkan adanya kendala administratif yang membuat tender proyek di lingkup Pemkab Pati sempat tertunda.
“Anggarannya sebesar Rp1,25 miliar. Perencanaan sudah jadi. Tinggal menunggu perintah Pak Plt Bupati untuk ditenderkan,” beber Hasto melalui sambungan telepon.
Rencananya, jalan tersebut akan diperbaiki menggunakan konstruksi beton sepanjang 330 meter dengan lebar 6 meter guna mengantisipasi genangan air yang sering muncul saat musim hujan.
“Untuk konstruksi beton sepanjang 330 meter dengan lebar enam meter. Semoga April ini bisa segera dimulai,” tandas Hasto. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















