LINIKATA.COM, KUDUS – Pondok Pesantren Lirboyo kembali menegaskan komitmennya dalam syiar Islam di penjuru Nusantara melalui program tahunan Safari Ramadan. Pada 2026 ini, sebanyak 3.001 delegasi santri diterjunkan ke berbagai daerah untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satu titik fokus pengabdian berada di Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Di Desa Kedungsari, sebanyak 24 delegasi santri ditempatkan di 11 titik dakwah yang mencakup masjid dan musala. Tidak hanya berdakwah di mimbar, mereka menyatu dengan denyut nadi kehidupan warga setempat melalui silaturahmi dan pendampingan keagamaan harian.
Ragam Agenda Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir hingga Desa
Selama satu bulan penuh, program ini diisi dengan berbagai kegiatan strategis yang menyasar berbagai lapisan usia. Mulai dari pemantauan kualitas dakwah melalui Monitoring dan Evaluasi (Monev) oleh LIM Pusat, hingga kegiatan edukasi spesifik seperti Seminar Kewanitaan di MTs MA Matholi’ul Huda dan Seminar Zakat di Masjid Al-Mujahidin.
Baca juga: Tradisi Smandapa Berbagi Jadi Wadah Pupuk Kepedulian Siswa di Ramadan
Para santri juga merangkul generasi muda melalui Festival Anak Sholeh di MI NU Matholibul Ulum 2 untuk memupuk semangat kompetisi islami sejak dini.
Selain agenda besar tersebut, rutinitas harian santri menjadi instrumen utama dalam menghidupkan suasana Ramadan. Para delegasi aktif menjadi muadzin, bilal tarawih, imam salat berjamaah, hingga pengajar kitab kuning dan TPQ. Kehadiran mereka di tengah masyarakat desa menciptakan harmoni antara tradisi pesantren dengan kearifan lokal, seperti ziarah makam leluhur dan kegiatan tarkhim.
Strategi Dakwah Melalui Keteladanan dan Kedekatan Sosial
Ketua Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Cabang Kudus, Moh. Zuhron, memberikan pesan mendalam mengenai esensi dakwah yang dijalankan para santri. Dia menekankan bahwa transformasi sosial bermula dari karakter sang pendakwah itu sendiri di tengah masyarakat.
“Ingatlah, terkadang dakwah yang paling kuat bukan berasal dari kata-kata, tetapi dari sikap dan perilaku. Senyum yang tulus, sapaan yang ramah, serta kesediaan membantu masyarakat sering kali lebih membekas daripada ceramah yang panjang,” ujar Moh. Zuhron.
Baca juga: Indahnya Ramadan di Pati: Kelenteng Hok Tik Bio Gelar Buka Bersama Lintas Agama
Apresiasi Masyarakat Terhadap Kiprah Delegasi Santri Lirboyo
Kehadiran para santri Lirboyo mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah desa dan warga setempat. Transformasi suasana keagamaan di masjid dan mushala dirasakan langsung sebagai dampak positif dari program pengabdian ini. Para santri dinilai mampu membawa semangat baru dalam beribadah sekaligus memberikan contoh nyata tentang kesantunan dan rendah hati yang menjadi ciri khas kaum sarungan.
Kepala Desa Kedungsari, Sukoyo, mengungkapkan rasa syukurnya atas kontribusi nyata para santri selama bertugas di wilayahnya. Menurutnya, adaptasi santri yang sangat baik dengan lingkungan desa menjadi kunci suksesnya program ini.
“Selama menjalankan tugas dakwah, para santri dinilai mampu berbaur dengan masyarakat, menunjukkan sikap yang santun, rendah hati, serta aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan desa,” ungkap Sukoyo. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














