LINIKATA.COM, PATI – Sejumlah warga yang tergabung dalam Aliansi Warga Tlogowungu Bersatu menggelar demonstrasi di depan SPPG Tlogowungu 1, Jumat (27/2/2026). Mereka memprotes menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tak layak karena tak sesuai anggaran.
Koordinator aksi, Muhammad Ali Sobbri, menyampaikan, salah satu menu yang membuat warga geram adalah satu buah jeruk kecil, empat butir telur puyuh, dan satu roti kering. Menurutnya, paket tersebut jika dihitung berdasarkan harga pasaran hanya bernilai sekitar Rp5 ribu.
“Menu yang dibagikan ke anak-anak katanya Rp8 ribu. Tapi kami buktikan di lapangan, itu hanya sekitar Rp5 ribu. Sisa Rp3 ribu itu ke mana?” tegasnya.
Baca juga: Heboh di Medsos! Menu MBG di Pati saat Ramadan Dinilai Tak Sesuai Anggaran
Selain itu, pihaknya juga mengaku menerima laporan dari siswa terkait kualitas buah yang mulai membusuk. Temuan itu sontak membuat pihaknya mempertanyakan kinerja ahli gizi di SPPG.
“Kami dapat konfirmasi ada jeruk yang busuk. Lalu ketika kami minta dihadirkan ahli gizi, kenapa tidak ada? Seharusnya ahli gizi standby untuk memastikan makanan itu layak atau tidak,” tambahnya.
Pihaknya mengancam akan melakukan aksi lanjutan jika tuntutan perbaikan menu ini tak diindahkan. Bahkan, Sobri menyebut akan membawa massa lebih besar dalam aksi tersebut.
“Kalau tidak ada titik kejelasan, akan kami hadirkan massa lebih banyak. Hari ini tujuh orang, bisa 800 bahkan tiga kali lipat,” tegasnya.
Menanggapi protes tersebut, Kepala SPPG Tlogowungu 1, Fikky Adrian Listyanto, menyampaikan apresiasi atas kritik dan masukan dari masyarakat.
“Saya mengapresiasi aspirasi masyarakat hari ini. Kritik dan saran kami terima. Saya juga memohon maaf apabila ada tutur kata yang kurang berkenan,” ujarnya.
Terkait anggaran, ia menegaskan bahwa pihaknya bekerja sesuai pagu yang telah ditetapkan, yakni Rp7.900 per paket.
Baca juga: 3 Pekan Berlalu, Hasil Lab Dugaan Keracunan MBG di SMKN 4 Pati Belum Keluar
“Itu pagunya Rp7.900. Kami tidak meninggikan HET. Semua sudah sesuai aturan Disperindag dan pertanggungjawaban kami sesuai regulasi,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa SPPG Tlogowungu 1 melayani 35 sekolah dan masih dalam proses pendistribusian saat aksi berlangsung. Namun, demi menghormati warga dan media, pihaknya sempat menghentikan operasional sementara. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














